Memperhatikan pemakaian huruf seperti :
Huruf Kapital
Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata
pada awal kalimat.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan
ungkapan yang berhubungan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar
kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan
yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang
digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama
instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama
orang.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan bahasa.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan,
hari, dan hari raya.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri
geografi.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama
resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan
nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau,
dan untuk.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk
ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga
ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk
semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah,
surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di,
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama
gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk
hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik,
dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang
digunakan dalam penyapaan.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti
keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan
lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan
lengkap itu. (Lihat contoh pada I B, I C, I E, dan II F15).
Huruf Miring
pada awal kalimat.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan
ungkapan yang berhubungan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar
kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan
yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang
digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama
instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama
orang.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan bahasa.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan,
hari, dan hari raya.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri
geografi.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama
resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan
nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau,
dan untuk.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk
ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga
ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk
semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah,
surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di,
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama
gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk
hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik,
dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang
digunakan dalam penyapaan.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti
keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan
lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan
lengkap itu. (Lihat contoh pada I B, I C, I E, dan II F15).
Huruf Miring
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku,
majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Catatan: Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum
diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf
miring, tetapi diapit dengan tanda petik.
majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Catatan: Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum
diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf
miring, tetapi diapit dengan tanda petik.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau
ungkapan yang bukan bahasa Indonesia. Ungkapan asing yang telah
diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan
sebagai kata Indonesia.
Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang
akan dicetak miring digarisbawahi.
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau
ungkapan yang bukan bahasa Indonesia. Ungkapan asing yang telah
diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan
sebagai kata Indonesia.
Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang
akan dicetak miring digarisbawahi.
Huruf Tebal
Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku,
bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar
pustaka, indeks, dan lampiran.
Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk
keperluan itu digunakan huruf miring.
Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan
sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan
polisemi.
Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau
kata yang akan dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah
ganda.
bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar
pustaka, indeks, dan lampiran.
Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk
keperluan itu digunakan huruf miring.
Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan
sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan
polisemi.
Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau
kata yang akan dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah
ganda.
Mengenai Penulisan Kata
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Novel itu sangat menarik.
B. Kata Turunan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan
bentuk dasarnya.
Misalnya: Berlari, Berlatih.
bentuk dasarnya.
Misalnya: Berlari, Berlatih.
Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada
bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia.
bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia.
Misalnya: mem-PHK-kan, di-upgrade
Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran
ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau
mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab
III, Huruf E, Butir 5.)
Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi
ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau
mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab
III, Huruf E, Butir 5.)
Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi
Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan
akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E,
Butir 5.)
Misalnya: dilipatgandakan, menggarisbawahi
akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E,
Butir 5.)
Misalnya: dilipatgandakan, menggarisbawahi
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: antarkota, ekstrakurikuler, pramuniaga
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: antarkota, ekstrakurikuler, pramuniaga
Catatan: Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya
huruf kapital, tanda hubung (-) digunakan di antara kedua unsur
itu.
huruf kapital, tanda hubung (-) digunakan di antara kedua unsur
itu.
Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf
kapital, tanda hubung (-) digunakan di antara kedua unsur itu.
Misalnya: non-Indonesia, pan-Afrikanisme
Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan yang
diikuti oeh kata berimbuhan, gabungan itu ditulis terpisah dan
unsur unsurnya dimulai dengan huruf kapital. Misalnya: Marilah
kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Jika kata maha, sebagai unsur gabungan, merujuk kepada Tuhan dan
diikuti oleh kata dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis
serangkai. Misalnya: Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup
kita.
Bentuk bentuk terikat dari bahasa asing yang diserap ke dalam
bahasa Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti, dapat digunakan
sebagai bentuk dasar. Misalnya: Sikap masyarakat yang pro
Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis
serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis
terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan. Misalnya: taklaik
terbang, taktembus cahaya.
C. Bentuk Ulang
kapital, tanda hubung (-) digunakan di antara kedua unsur itu.
Misalnya: non-Indonesia, pan-Afrikanisme
Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan yang
diikuti oeh kata berimbuhan, gabungan itu ditulis terpisah dan
unsur unsurnya dimulai dengan huruf kapital. Misalnya: Marilah
kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Jika kata maha, sebagai unsur gabungan, merujuk kepada Tuhan dan
diikuti oleh kata dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis
serangkai. Misalnya: Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup
kita.
Bentuk bentuk terikat dari bahasa asing yang diserap ke dalam
bahasa Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti, dapat digunakan
sebagai bentuk dasar. Misalnya: Sikap masyarakat yang pro
Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis
serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis
terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan. Misalnya: taklaik
terbang, taktembus cahaya.
C. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara
unsur-unsurnya. Misalnya: anak-anak, mata-mata. Catatan :
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama
saja. Misalnya: surat kabar, surat-surat kabar.
Bentuk ulang gabungan kata yang unsur keduanya adjektiva ditulis
dengan mengulang unsur pertama atau unsur keduanya dengan makna
yang berbeda. Misalnya: orang besar, orang-orang besar
Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk ulang.
Misalnya: kekanak-kanakan Catatan:
Angka 2 dapat digunakan dalam penulisan bentuk ulang untuk
keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat atau
kuliah. Misalnya: Pemerintah sedang mempersiapkan rancangan
undang2 baru.
D. Gabungan Kata
unsur-unsurnya. Misalnya: anak-anak, mata-mata. Catatan :
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama
saja. Misalnya: surat kabar, surat-surat kabar.
Bentuk ulang gabungan kata yang unsur keduanya adjektiva ditulis
dengan mengulang unsur pertama atau unsur keduanya dengan makna
yang berbeda. Misalnya: orang besar, orang-orang besar
Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk ulang.
Misalnya: kekanak-kanakan Catatan:
Angka 2 dapat digunakan dalam penulisan bentuk ulang untuk
keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat atau
kuliah. Misalnya: Pemerintah sedang mempersiapkan rancangan
undang2 baru.
D. Gabungan Kata
Unsur-unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis
terpisah. Misalnya: duta besar, model linear
Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat
ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara unsur-unsurnya
untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan. Misalnya:
anak-istri Ali, anak istri-Ali
Gabungan kata yang dirasakan sudah padu benar ditulis serangkai.
Misalnya: acapkali, darmasiswa, puspawarna.
E. Suku Kata
terpisah. Misalnya: duta besar, model linear
Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat
ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara unsur-unsurnya
untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan. Misalnya:
anak-istri Ali, anak istri-Ali
Gabungan kata yang dirasakan sudah padu benar ditulis serangkai.
Misalnya: acapkali, darmasiswa, puspawarna.
E. Suku Kata
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a) Jika di tengah kata ada huruf vokal yang berurutan,
pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
a) Jika di tengah kata ada huruf vokal yang berurutan,
pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
b) Huruf diftong ai, au, dan oi tidak dipenggal.
c) Jika di tengah kata dasar ada huruf konsonan (termasuk
gabungan huruf konsonan) di antara dua buah huruf vokal,
pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu.
gabungan huruf konsonan) di antara dua buah huruf vokal,
pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu.
d) Jika di tengah kata dasar ada dua huruf konsonan yang
berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf
konsonan itu.
berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf
konsonan itu.
e) Jika di tengah kata dasar ada tiga huruf konsonan atau
lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya
dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf
konsonan yang kedua. Catatan:
lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya
dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf
konsonan yang kedua. Catatan:
Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak
dipenggal.
Pemenggalan kata tidak boleh menyebabkan munculnya satu huruf
(vokal) di awal atau akhir baris.
Pemenggalan kata dengan awalan, akhiran, atau partikel dilakukan
di antara bentuk dasar dan imbuhan atau partikel itu. Catatan:
Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami
perubahan dilakukan seperti pada kata dasar.
Akhiran -i tidak dipisahkan pada pergantian baris. (Lihat juga
keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 2.)
Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.
Pemenggalan tidak dilakukan pada suku kata yang terdiri atas
satu vokal.
Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu
unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya
dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap-tiap unsur gabungan itu
dipenggal seperti pada kata dasar. (Lihat juga keterangan tentang
tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 2.)
Nama orang, badan hukum, atau nama diri lain yang terdiri atas
dua unsur atau lebih dipenggal pada akhir baris di antara
unsur-unsurnya (tanpa tanda pisah). Unsur nama yang berupa
singkatan tidak dipisahkan.
F. Kata Depan
dipenggal.
Pemenggalan kata tidak boleh menyebabkan munculnya satu huruf
(vokal) di awal atau akhir baris.
Pemenggalan kata dengan awalan, akhiran, atau partikel dilakukan
di antara bentuk dasar dan imbuhan atau partikel itu. Catatan:
Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami
perubahan dilakukan seperti pada kata dasar.
Akhiran -i tidak dipisahkan pada pergantian baris. (Lihat juga
keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 2.)
Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.
Pemenggalan tidak dilakukan pada suku kata yang terdiri atas
satu vokal.
Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu
unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya
dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap-tiap unsur gabungan itu
dipenggal seperti pada kata dasar. (Lihat juga keterangan tentang
tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 2.)
Nama orang, badan hukum, atau nama diri lain yang terdiri atas
dua unsur atau lebih dipenggal pada akhir baris di antara
unsur-unsurnya (tanpa tanda pisah). Unsur nama yang berupa
singkatan tidak dipisahkan.
F. Kata Depan
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya, kecuali di dalamgabungan kata yang sudah lazim
dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. (Lihat
juga Bab II, Huruf D, Butir 3.)
mengikutinya, kecuali di dalamgabungan kata yang sudah lazim
dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. (Lihat
juga Bab II, Huruf D, Butir 3.)
G. Partikel
Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya.
H. Singkatan dan Akronim
mendahuluinya.
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya.
H. Singkatan dan Akronim
Singkatan ialah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau
lebih.
a) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau
pangkat diikuti dengan tanda titik di belakang tiap-tiap
singkatan itu.
lebih.
a) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau
pangkat diikuti dengan tanda titik di belakang tiap-tiap
singkatan itu.
b) Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi
yang terdiri atas gabungan huruf awal kata ditulis dengan huruf
kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi
yang terdiri atas gabungan huruf awal kata ditulis dengan huruf
kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
c) Singkatan kata yang berupa gabungan huruf diikuti dengan
tanda titik.
tanda titik.
Singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri
dengan tanda titik.
I. Angka dan Bilangan
dengan tanda titik.
I. Angka dan Bilangan
Bilangan dapat dinyatakan dengan angka atau kata. Angka dipakai
sebagai lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim
digunakan angka Arab atau angka Romawi.
sebagai lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim
digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua
kata ditulis dengan huruf, kecuali jika bilangan itu dipakai
secara berurutan seperti dalam perincian atau paparan.
Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf, jika lebih dari
dua kata, susunan kalimat diubah agar bilangan yang tidak dapat
ditulis dengan huruf itu tidak ada pada awal kalimat.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja sebagian
supaya lebih mudah dibaca.
Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas,
dan isi; (b) satuan waktu; (c) nilai uang; dan (d) jumlah.
Angka digunakan untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen,
atau kamar.
Angka digunakan untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab
suci.
Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
J. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya
kata ditulis dengan huruf, kecuali jika bilangan itu dipakai
secara berurutan seperti dalam perincian atau paparan.
Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf, jika lebih dari
dua kata, susunan kalimat diubah agar bilangan yang tidak dapat
ditulis dengan huruf itu tidak ada pada awal kalimat.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja sebagian
supaya lebih mudah dibaca.
Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas,
dan isi; (b) satuan waktu; (c) nilai uang; dan (d) jumlah.
Angka digunakan untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen,
atau kamar.
Angka digunakan untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab
suci.
Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
J. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata
yang mendahuluinya.
mengikutinya; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata
yang mendahuluinya.
K. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Catatan: Huruf awal si dan sang ditulis dengan huruf kapital jika
kata-kata itu diperlakukan sebagai unsur nama diri.
Catatan: Huruf awal si dan sang ditulis dengan huruf kapital jika
kata-kata itu diperlakukan sebagai unsur nama diri.
Mengenai Pemakaian Tanda Baca
A. Tanda Titik (.)
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau
seruan.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu
bagan, ikhtisar, atau daftar.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan waktu.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan jangka waktu.
Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis,
judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda
seru, dan tempat terbit.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan (Lihat Bab II, Huruf
H.)
B. Tanda Koma (,)
seruan.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu
bagan, ikhtisar, atau daftar.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan waktu.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan jangka waktu.
Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis,
judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda
seru, dan tempat terbit.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan (Lihat Bab II, Huruf
H.)
B. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma dipakai di antara unsur unsur dalam suatu
perincian atau pembilangan.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang
satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata
seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk
kalimat jika anak kalimat itu
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena
itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun
begitu.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya,
wah, aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai
sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di
dalam kalimat.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab III,
Huruf J dan K.)
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan
langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian
bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan
wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik
susunannya dalam daftar pustaka.
Tanda koma dipakai di antara bagian bagian dalam catatan kaki
atau catatan akhir.
Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri,
keluarga, atau marga.
Tanda koma dipakai di muka angka desimal atau di antara rupiah
dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang
sifatnya tidak membatasi. (Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab
III, Huruf F.)
Tanda koma dapat dipakai–untuk menghindari salah baca/salah
pengertian–di belakang keterangan yang terdapat pada awal
kalimat.
C. Tanda Titik Koma (;)
perincian atau pembilangan.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang
satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata
seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk
kalimat jika anak kalimat itu
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena
itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun
begitu.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya,
wah, aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai
sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di
dalam kalimat.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab III,
Huruf J dan K.)
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan
langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian
bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan
wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik
susunannya dalam daftar pustaka.
Tanda koma dipakai di antara bagian bagian dalam catatan kaki
atau catatan akhir.
Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri,
keluarga, atau marga.
Tanda koma dipakai di muka angka desimal atau di antara rupiah
dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang
sifatnya tidak membatasi. (Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab
III, Huruf F.)
Tanda koma dapat dipakai–untuk menghindari salah baca/salah
pengertian–di belakang keterangan yang terdapat pada awal
kalimat.
C. Tanda Titik Koma (;)
Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.
Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian
dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam
hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan
kata dan.
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara
atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh
tanda baca dan kata hubung.
D. Tanda Titik Dua (:)
memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.
Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian
dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam
hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan
kata dan.
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara
atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh
tanda baca dan kata hubung.
D. Tanda Titik Dua (:)
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang
diikuti rangkaian atau
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang
memerlukan pemerian.
Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata
yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan
halaman, (b) bab dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak
judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku acuan
dalam karangan.
E. Tanda Hubung (-)
diikuti rangkaian atau
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang
memerlukan pemerian.
Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata
yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan
halaman, (b) bab dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak
judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku acuan
dalam karangan.
E. Tanda Hubung (-)
Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh
pergantian baris.
Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang
mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya
pada pergantian baris.
Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan
huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (a) hubungan
bagian-bagian kata atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian
frasa atau kelompok kata.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai:
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan
huruf kapital,
pergantian baris.
Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang
mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya
pada pergantian baris.
Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan
huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (a) hubungan
bagian-bagian kata atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian
frasa atau kelompok kata.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai:
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan
huruf kapital,
b. ke- dengan angka,
c. angka dengan -an,
d. kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf
kapital,
kapital,
e. kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan
f. gabungan kata yang merupakan kesatuan.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia
dengan unsur bahasa asing.
F. Tanda Pisah (–)
dengan unsur bahasa asing.
F. Tanda Pisah (–)
Tanda pisah dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat
yang memberi penjelasan di luar bangun utama kalimat.
Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi
atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat
dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
G. Tanda Tanya (?)
yang memberi penjelasan di luar bangun utama kalimat.
Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi
atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat
dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
G. Tanda Tanya (?)
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian
kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan
kebenarannya.
H. Tanda Seru (!)
Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian
kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan
kebenarannya.
H. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang
berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, ataupun emosi yang kuat.
berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, ataupun emosi yang kuat.
I. Tanda Elipsis (…)
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus
Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat
atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
J. Tanda Petik (” “)
Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat
atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
J. Tanda Petik (” “)
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal
dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau
bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang
dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
K. Tanda Petik Tunggal (‘ ‘)
dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau
bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang
dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
K. Tanda Petik Tunggal (‘ ‘)
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat
di dalam petikan lain.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau
ungkapan.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau
ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing (Lihat pemakaian tanda
kurung, Bab III, Huruf M)
L. Tanda Kurung (( ))
di dalam petikan lain.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau
ungkapan.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau
ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing (Lihat pemakaian tanda
kurung, Bab III, Huruf M)
L. Tanda Kurung (( ))
Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau
penjelasan.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan
yang bukan bagian utama kalimat.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang
kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang
memerinci urutan keterangan.
M. Tanda Kurung Siku ([ ])
penjelasan.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan
yang bukan bagian utama kalimat.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang
kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang
memerinci urutan keterangan.
M. Tanda Kurung Siku ([ ])
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau
kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau
bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan
bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam
naskah asli.
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat
penjelas yang sudah bertanda kurung.
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada
alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua
tahun takwim atau tahun ajaran.
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan
ataupun.
O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau
bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan
bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam
naskah asli.
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat
penjelas yang sudah bertanda kurung.
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada
alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua
tahun takwim atau tahun ajaran.
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan
ataupun.
O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian
angka tahun.
angka tahun.
Dia ‘kan sudah kusurati. (‘kan = bukan)
Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
1 Januari ’08 (’08 = 1988)
Mengenai Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari
pelbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa
asing, seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan
Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam
bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar.
Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam
bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, dan de l’homme
par l’homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa
Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih
mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan
pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam
hal itu, diusahakan ejaannya disesuaikan dengan Pedoman Umum
Pembentukan Istilah Edisi Ketiga agar bentuk Indonesianya masih
dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
pelbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa
asing, seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan
Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam
bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar.
Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam
bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, dan de l’homme
par l’homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa
Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih
mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan
pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam
hal itu, diusahakan ejaannya disesuaikan dengan Pedoman Umum
Pembentukan Istilah Edisi Ketiga agar bentuk Indonesianya masih
dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Credit :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar